hiDup sehat..?? why not...

|

Saatnya kini merenungkan lembaran harian ketika badan kita mengeluh tak beres dan merongrong hari-hari kerja kita. Banyak yang bisa dipetik dari buku harian kesehatan pribadi kita itu.
Orang bilang kesehatan itu nilai. Kita baru merasa betapa berharganya kesehatan selagi kita sakit. Berapa harga kesehatan tak selalu bisa terbeli. Dengan uang yang dimiliki mungkin orang bisa luput dari maut penyakit jantung atau stroke yang menyerang. Tapi dengan uang orang tak bisa membayar untuk memulihkan stigma, cacat yang disisakan penyakit perenggut nyawa, kecuali menerima saja bahwa tubuh sudah bukan tubuh yang utuh lagi, melainkan yang menyimpan penyakit, bom waktu yang merampas hari-hari bahagia kita.
Beda dengan sehabis terserang masuk angin, atau mencret yang hilang tak bersisa setelah kita sembuh. Sekali kita terserang jantung koroner, stroke, gagal ginjal, hepatitis, tak mungkin lagi tubuh kita bisa undur.
Sekali kesehatan kita sudah tiba pada titik dimana tak mungkin tubuh kita bisa mundur tagi, sebanyak apapun uang yang kita punya rasanya tiada gunanya. Petikan pidato seorang konglomerat di hari ultahnya antara lain bicara kurang lebih seperti ini, “Tiada kado paling berharga buat saya selain diberi badan yang sehat.”
Tidak Merdeka
• Jika badan sudah menyimpan stigma penyakit entah apa, kendati tak sedang sakit pun, badan kita selalu berada dalam kondisi tak sepenuhnya sehat.
Orang diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, atau gagal ginjal, mungkin bisa tampak sehat selama penyakitnya terkontrol. Tapi nilai sehat kelompok orang ber-stigma begini, tentu tak sama dengan sehatnya orang yang tak menyimpan penyakit apa pun.
Bagi orang yang tubuhnya menyimpan penyakit, makna sehatnya tak sebangun dengan orang yang tidak mengidap penyakit apa pun. Buat mereka, sehat lebih identik dengan tidak (sedang) sakit, oleh karena sewaktu-waktu, penyakit yang tersimpan di tubuhnya bisa kambuh malah bertambah parah atau berpotensi merenggut nyawa.
Lebih Karena Ulah
• Kalau badan sehat dan bukan sekadar tak sakit, betapa sejahteranya hidup. Jika orang menyimpan penyakit, kendati bisa memesan menu restoran paling mewah belum tentu selalu lahap selera makannya.
Orang sehat makan dengan ikan asin dan sambal tomat saja mungkin serasa makan bistik. Jika badan sudah berpenyakit, percuma saja tersedia bistik, kambing guling, atau sop buntut di meja makan.
Banyak duit tapi tak bisa seenaknya makan. Sudah kerja keras dari muda, begitu sudah berkecukupan cawan anggur yang hidup sudah berikan kepada kita tak bisa direguk. Apalagi kalau hidup serba tak cukup, dan badan begitu ringkih.
Secara medis tiap orang dapat membangun hidup bebas dari ancaman penyakit perenggut nyawa. Sebagian besar penyakit yang menyimpan stigma pada tubuh kita umumnya dapat dicegah. Dibanding yang tak punya turunan, memang lebih berat upaya yang perlu dilakukan oleh mereka yang sudah berbakat atau mewarisi penyakit yang jika dibiarkan bisa mengancam nyawa.
Hampir semua penyakit berat dan ringan, selalu ada upaya untuk dicegah. Kebanyakan orang menjadi sakit- lantaran ulahnya sendiri. Atau karena ketidaktahuannya, abai terhadap kesehatan hingga kurang arif memperlakukan tubuhnya sendiri.
Makan Teratur
• Tentu tak perlu sekaya orang Swiss untuk bisa sesehat mereka. Agar bisa hidup layak tak perlu harus menunggu berkecukupan, tapi bisa memelihara kesehatan diri dengan cara hidup seimbang dan teratur.
Makan secukupnya, dan untuk memperoleh gizi lengkap (hidrat arang, protein, lemak, sayur dan buah) tak harus diperoleh dari menu yang mahal, asal makan teratur dengan menu lengkap tiga kali, dan menganggap sarapan itu penting.
Studi di Boston Massachusset mengungkap bahwa makan sedikit bikin panjang umur. Makan banyak berisiko penyakitan.
Sekarang terungkap, tidur siang bukan saja untuk meningkatkan kinerja harian, tapi terhadap kesehatan juga. Jika dilakukan serba teratur, tertib waktu, jam kerja mesin tubuh akan terkondisikan begitu, tahu kapan waktu makan, tidur, jaga, dan seks.

0 komentar:

Posting Komentar